Rezeki dan Kematian itu Allah SWT yang atur
Alasan penulis mengambil judul ini karena penulis ingin membagi dan men- Share pengalaman atau cerita penulis mengenai judul ini, sekaligus pengalaman atau cerita ini sebagai pelajaran kita bersama.
Beriman kepada takdir Allah SWT adalah rukun iman ke 6. Apa itu iman? Secara bahasa iman adalah mashdar dari lafadz aamana yang mengikuti wajan af'ala, artinya keyakinan, kepercayaan, atau kejujuran. Secara bahasa, iman berarti membenarkan (Tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalm hati dan mengamalkan dalam perbuatan. Kemudian apa itu takdir? Takdir merupakan sebuah sebutan atas pengetahuan Allah Swt yang meliputi seluruh alam. Allah Swt menulis segala peristiwa yang terjadi baik kepada alam maupun kepada manusia. Takdir Allah Swt hanya untuk menyelaraskan takdir dengan keinginan manusia, karena manusia diberkahi kelebihan akal untuk mampu membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, Allah Swt hanya membimbing kita menuju amal kebaikan yang menyebabkan kita mempunyai keinginan dan kemudian melakukannya.
Beriman kepada takdir Allah SWT adalah rukun iman ke 6. Apa itu iman? Secara bahasa iman adalah mashdar dari lafadz aamana yang mengikuti wajan af'ala, artinya keyakinan, kepercayaan, atau kejujuran. Secara bahasa, iman berarti membenarkan (Tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalm hati dan mengamalkan dalam perbuatan. Kemudian apa itu takdir? Takdir merupakan sebuah sebutan atas pengetahuan Allah Swt yang meliputi seluruh alam. Allah Swt menulis segala peristiwa yang terjadi baik kepada alam maupun kepada manusia. Takdir Allah Swt hanya untuk menyelaraskan takdir dengan keinginan manusia, karena manusia diberkahi kelebihan akal untuk mampu membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, Allah Swt hanya membimbing kita menuju amal kebaikan yang menyebabkan kita mempunyai keinginan dan kemudian melakukannya.
Takdir terbagi menjadi 2, yaitu takdir muallaq dan takdir mubram. Takdir muallaq adalah ketetapan Allah SWT yang masih dapat diubah melalui usaha, sedangkan takdir mubram adalah adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT yang sudah pasti dan tidak dapat diubah. Salah satu contoh takdir muallaq, yaitu tidak pintar, kita bisa mengubahnya dengan cara belajar. Sedangkan salah satu contoh takdir mubram adalah darah yang berwarna merah.
Kejadian yang pernah kita alami ternyata mengandung banyak pelajaran terutama sebuah peringatan dan pengingat terhadap agama Allah SWT. Mengkorelasikan semua kejadian hidup kita dengan ilmu-ilmu terutama ilmu agama, agar kita mendapatkan evaluasi juga insight baru dalam hidup. Maka dari itu, cobalah untuk bertafakur apa yang sedang kita alami. Sesuai latar belakang penulisan blogg ini, penulis akan mengajak pembaca untuk merenung dan bertafakur.
Pada malam hari, penulis diajak berziarah di dua tempat. Ditengah malam yang gelap dan sepi juga dipenuhi rasa kantuk. Kami membawa motor menuju tempat ziarah, ketika dalam perjalanan ke tempat ziarah pertama kami sampai dengan keadaan selamat, kemudian kami ziarah. Setelah ziarah pertama kami melanjutkan ke tempat ziarah kedua. Diperjalanan menuju tempat ziarah kedua, kami sudah mulai diselimuti rasa kantuk sehingga kami terjatuh dari motor dan mengakibatkan jari-jari ban depan yang tadinya berbentui lingkaran seketika menjadi segitiga. Begitu parah benturan yang kami rasakan, dimana jika dipikir menggunakan logika kecelakaan tersebut bisa mengakibatkan kematian. Akan tetapi, Alhamdulillah kami masih hidup, kecelakaan tersebut menjadi pengalaman yang buruk bagi kami juga sebagai bahan kita bertafakur. Dari sini kita belajar, kematian adalah takdir Allah/ketentuan Allah untuk hambanya, seberusaha apapun kita untuk mencoba mendahului takdir, kita tidak akan bisa, jika sudah ajalnya kita akan mati.
Selain itu ada rezeki, rezeki adalah salah satu dari tiga (jodoh, rezeki, dan kematian) yang sudah Allah atur untuk hambanya. Selain kejadian tersebut ada beberapa kejadian lain yang membuat penulis bertafakur, yaitu ketika penulis berpuasa dihari senin kemudian hendak berbuka, tetapi tidak ada bukaan. Masih dengan orang yang sama, ketika aku hendak mencari bukaan (minimal air minum) warung-warung sudah tutup. Kemudian ia memberikan aku air dengan cara melemparnya sampai terjatuh, tetapi air itu tidak pecah ketika berbenturan dengan aspa yang begitu keras. Padahal secara hukum fisika dengan kecepatan, tekanan, volume gelas plastik, dan gravitasi yang sesuai, gelas plastik berisi air tersebut tidak pecah. Dari sini kami berfikir bahwa, rezeki itu sudah Allah atur dan kita harus menjemputnya, jika makanan, barang, atau apapun itu sudah ditakdirkan untuk kita, maka akan menjadi kita sepenuhnya. Walaupun rezeki itu sudah diatur, kita juga harus menjemputnya, sama halnya seorang mahasiswa jika dia ditakdirkan mendapatkan beasiswa, tetapi dia enggan berusaha mencari dan mendaftar beasiswa tersebut, maka dia tidak akan mendapatkan beasiswa tersebut.
Maka dari itu, bertafakurlah apa yang sedang kita alami di dunia ini, jika kita mengkorelasikannya dengan ilmu agama, itu adalah sebuah peringatan bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Arneish. (2016). KONSEP TAKDIR DALAM AL-QUR'AN. Jurnal Studi Al-Qur'an dan Al-Hadits
Komentar
Posting Komentar